15 Januari 2020

Doa Rasulullah untuk Hasan dan Husein dari Bahaya Ular

Ular termasuk hewan melata yang berbahaya bagi manusia. Ular dapat menyengat dengan bisanya dan melilit manusia, tanpa kecuali anak-anak. Selain ikhtiar lahiriah, kita dianjurkan berdoa untuk melindungi anak-anak dari kemungkinan bahaya ular. Berikut ini doa yang dapat dibaca diri sendiri untuk berlindung dari bahaya ular.   
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ 
A‘ūdzu bi kalimātillāhit tāmāti min kulli syaithānin wa hāmmatin wa min kulli ‘aynin lāmmah.
 Artinya, “Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, hewan melata, dan segala penyakit ain yang ditimbulkan mata jahat.” Adapun berikut ini adalah lafal doa yang dibaca oleh Rasulullah untuk melindungi kedua cucunya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari.  

 أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ 
U‘īdzukuma bi kalimātillāhit tāmāti min kulli syaithānin wa hāmmatin wa min kulli ‘aynin lāmmah. Artinya, “Aku melindungi kalian berdua dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala setan, hewan melata, dan segala penyakit ain yang ditimbulkan mata jahat.

 عن ابن عباس رضي الله عنهما قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يعوذ الحسن والحسين ويقول إن أباكما كان يعوذ بها إسماعيل وإسحاق أعيذكما بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة

Artinya, “Dari Ibnu Abbas RA, ia bercerita bahwa Nabi Muhammad SAW mendoakan perlindungan Hasan dan Husein. Rasul bersabda, ‘Sungguh, bapak kalian Ibrahim melindungi Ismail dan Ishak dengan dengan kalimat ini, ‘U‘īdzukuma bi kalimātillāhit tāmāti min kulli syaithānin wa hāmmatin wa min kulli ‘aynin lāmmah.’’” Doa ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Al-Wabilus Shayyib minal Kalimit Thayyib, (Kairo, Darud Diyan lit Turats: 1987 M/1408 H), halaman 168. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/114803/doa-rasulullah-untuk-hasan-dan-husein-dari-bahaya-ular

14 Januari 2020

Penjelasan Nabi Muhammad tentang Dajjal


“Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut kabut, Dajjal, binatang (ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya'juj dan Ma'juj, tiga gerhana; gerhana di timur, gerhana di barat dan gerhana di jazirah Arab dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka,” kata Nabi Muhammad dalam satu hadits riwayat Hudzaifah bin Asid al-Ghifari. 
Dajjal merupakan salah satu tanda dari beberapa tanda kiamat kubra (hari akhir). Ia merupakan perkara ‘ghaib’ atau sam’iyyat. Umat Muslim—Ahlusunnah wal Jamaah- wajib mengimani kedatangan Dajjal di akhir zaman nanti. Caranya, umat Muslim harus meyakini sepenuhnya apa yang pernah disampaikan Nabi Muhammad mengenai Dajjal. 
Dalam satu hadits riwayat Abu Dawud misalnya, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa Dajjal—secara fisik- merupakan seorang laki-laki pendek, berambut keriting, matanya buta sebelah. Dia mengaku sebagai Tuhan sehingga membuat umat manusia ‘kebingungan’. Namun, Nabi menegaskan bahwa Tuhan tidak buta sebelah, sebagaimana Dajjal.  Suatu hari, Nabi Muhammad pernah menyampaikan pidato di hadapan para sahabatnya secara panjang mengenai Dajjal. 
Merujuk Hayatush Shahabah (Syekh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, 2019), Nabi Muhammad mengawali pidatonya dengan mengatakan bahwa setiap nabi yang diutus Allah pasti mengingatkan kaumnya terhadap Dajjal, termasuk dirinya sebagai nabi terakhir.  
“Dajjal pasti akan muncul di tengah kalian,” tegas Nabi. 
Kata Nabi, dirinya akan menjadi pelindung bagi setiap Muslim manakala Dajjal muncul pada zamannya. Namun, jika Dajjal datang setelah Nabi wafat maka setiap Muslim menjadi pelindung atas dirinya sendiri. Dan Allah akan menggantikan Nabi untuk melindungu umatnya. 
Nabi kemudian menjelaskan perihal wilayah kemunculan Dajjal. Disebutkan bahwa Dajjal akan datang dari suatu wilayah yang sepi antara Syam (Suriah, kini) dan Irak. Lalu dia membuat keonaran dimana-mana, di seluruh penjuru dunia.  
“Dajjal akan mulai muncul dan berkata, ‘Aku adalah nabi’, padahal tidak ada lagi nabi sesudahku. Lalu ia mengulanginya, sampai akhir berkata, ‘Aku adalah Tuhanmu’, padahal kalian tidak melihat Tuhan kalian sebelum mati,” jelas Nabi Muhammad. 
Selain ciri-ciri fisik di atas, Nabi juga mengungkapkan bahwa ciri Dajjal lainnya adalah ada kata ‘kafir’ di antara kedua bola matanya. Semua orang yang beriman bisa membaca kata di jidat Dajjal tersebut. Oleh karena itu, Nabi memerintahkan umatnya yang menjumpai Dajjal agar meludahi wajahnya dan membacakan awal-awal Surat Al-Kahfi.  
Dajjal dijelaskan Nabi Muhammad sebagai ‘seorang yang sakti.’ Dia akan menguasai umat manusia. Ia bisa menghidupkan manusia setelah membunuhnya. Tapi, Nabi menegaskan bahwa Dajjal tidak bisa melakukan lebih dari pada itu. Juga tidak bisa menguasai manusia lainnya.  
“Cobaan Dajjal antara lain ia membawa surga dan neraka. Neraka Dajjal adalah surga, sedangkan surga Dajjal adalah neraka. Barangsiapa diuji dengan neraka Dajjal, hendaklah ia memejamkan mata dan meminta pertolongan kepada Allah, niscaya neraka itu menjadi dingin dan menyelamatkan, sebagaimana api menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim As,” papar Nabi Muhammad. 
Nanti, Dajjal akan melewati sebuah desa dimana penduduknya mengimani dan mempercayainya. Dajjal kemudian berdoa untuk kesejahteraan mereka. Maka hujanpun turun, bumi menjadi subur, binatang mereka menjadi sangat gemuk, penuh dengan daging, dan deras air susunya. Kondisi berbeda dialami penduduk desa yang mengingkari dan tidak mengimani Dajjal. Dajjal mengutuknya hingga tidak ada satu pun binatang mereka yang hidup. 
“Hari-hari Dajjal adalah empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari lagi seperti sebulan, satu hari lagi seperti sepekan, sedangkan hari-hari berikutnya adalah seperti hari-hari biasa, sedangkan hari terakhir adalah hari seperti fatamorgana. Pagi hari, seseorang berada di pintu Madinah dan sebelum di pintu yang lain, sore hari telah tiba,” kata Nabi Muhammad. Demikian lah penjelasan Nabi Muhammad mengenai Dajjal. Selain menyampaikan ciri-ciri, wilayah kemunculannya, dan cobaan yang dibawa Dajjal, Nabi Muhammad juga mengingatkan agar umat Muslim tetap memegang teguh keimanan dan keislamannya. Tidak mengikuti, apalagi meyakini apa yang disampaikan Dajjal. Karena sesungguhnya surganya Dajjal adalah nerakanya Allah dan nerakanya Dajjal adalah surganya Allah. 

 Penulis: Muchlishon Editor: Fathoni Ahmad


13 Januari 2020

nabi ilyas as

 NABI ILYAS AS

Nabi Ilyas diutus kepada penduduk Baalbek, sebelah barat Kota Damaskus (Libanon Timur sekarang). Dia mengajak kaumnya beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap patung yang mereka namakan Ba`la. Hal inilah yang mengakibatkan mereka menganiayanya. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Ilyas adalah paman Nabi Ilyasak.
namun betapapun gigihnya Nabi Ilyas berdakwah, kaumnya tidak mau mendengarkannya. Maka Allah menghukum mereka dengan azab didunia dan akhirat.
Selepas kematian Nabi Sulaiman A.S., kerajaan telah mengalami perpecahan. Pengaruh syaitan telah berleluasa. Manusia yang beragama diejek-ejek. Undang-undang Somaria telah membunuh kebanyakan golongan yang mengetahui dan mengikuti akidah yang sebenar. Pengaruh kejahatan menjadi semakin buruk dan Allah telah menghantar Nabi Ilyas A.S. untuk memulihkan manusia pada zaman pemerintahan Raja Ahab dari Israil. Baginda berusaha berusaha bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia daripada mempercayai banyak tuhan dan melarang mereka menyembah Tyrian Bal.


Baginda juga menasihati manusia untuk menyembah Allah dan mengelakkan diri daripada melakukan kejahatan. Apabila usahanya tidak dihiraukan dan tidak membuahkan hasil, baginda tiba-tiba muncul sebeum raja dan tukang tiliknya memberitahu yang arus deras dan kebuluran akan melanda negeri tersebut. Baginda juga memberitahu yang Tyrian Bal tidak mempunyai kuasa untuk menahan bencana tersebut. Para penduduk tidak mengendahkan amarannya dan tidak mengubah kepercayaan mereka. Kenabian Nabi Ilyas akhirnya terbukti benar dan seluruh negeri dilanda banjir besar dan rakyat mengalami kebuluran. Selepas dua tahun, Nabi Ilyas memohon Allah mengurniakan belas kasihan dan keampunan-Nya kepada penduduk yang kebuluran itu. Mereka telah mengakui kekuasaan Allah dan berasa sangat menyesal.



Sejurus selepas arus deras berhenti dan Allah telah menarik balik sumpahannya, Allah telah menyuruhnya memanggil al-Yas'a menggantikannya. Baginda melaksanakan perintah Allah dengan penuh ketaatan dan hilang secara misteri. Terdapat satu petikan dalam ayat al-Quran yang bermaksud:



" Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik" (Shaad, 28: 48) .

08 Januari 2020

Rahasia di Balik Lahirnya Rasulullah di Makkah


Dalam agama Islam ada namanya Jabal Rahmah, sebuah tugu batu, kemudian di India ada yang dikenal dengan sebutan Lingga Yoni. Ada air yang bernama Zamzam, ada air yang bernama Gangga, ada perjalanan suci dengan kain slempang, di sini ada yang berwarna putih, di sana yang berwarna kuning. Selesai perjalanan suci, ada urusan yang sama terkait dengan urusan rambut, yang di sini tahallul, yang di sana digundul. Selesai perjalanan suci itu ada darah yang di sini ada kurban, di sana ada Gadri. Yang ketika meninggalkan sujud meninggalkan tanda yang di sini dua, di sana delapan. Ini butuh kajian yang sangat mendalam bahwa agama merupakan awal yang dinamakan Milata Ibrahim. KH Ahmad Muwafiq dalam Islam Rahmatan Lil 'Alamin (2019) menjelaskan, dari proses tersebut kemudian guidance bergeser karena Nabi Ibrahim meninggal. Diteruskan olah dua putranya, yang satu bernama Ismail yang satu bernama Ishaq. Dan guidance tersebut berubah ketika Ishaq mempunyai anak bernama Yaqub atau Israil yang itu mempunyai 12 anak yang dinamakan Bani Israil. Dan Bani Israil mampu membangun guidance baru karena dikasih Kitab Injil dan dikasih Kitab Taurat. Yang dikasih Kitab Taurat hingga saat ini masih menjadi bagian besar dari umat manusia di dunia dengan agama besarnya yaitu Yahudi. Yang dikasih Kitab Injil masih menjadi umat besar di muka bumi ini yang disebut Nasrani. Punya Pusat kota besar namanya vatikan. Yang di sini mempunyai pengikut bernama Romo. Guidance ini bergeser, akan tetapi Allah menunjukkan bahwa ini harus dikembalikan pada guidance awal, pada jalur awal. Maka kemudian dilahirkanlah Rasulullah Muhammad SAW di Kota Makkah. Makkah adalah kunci di mana manusia harus dikembalikan ke jalan Allah. Itulah kemudian mengapa Rasulullah lahir di Kota Makkah untuk mengembalikan simbol kenabian dari awal sampai akhir sebagai wujud Khatamul Anbiya’ wal Mursalin. Ketika terjadi sengketa dengan agama-agama sebelumnya, kemudian Allah mengutus Rasulullah sebagai guidance kenabian, maka kemudian diangkatlah Rasulullah ke langit. Rasulullah ditunjukkan jejak para pendahulunya. Pemahaman lahirnya Rasulullah di Makkah akhirnya menjadi kunci. Kunci apa? Kunci bagi kita semua bahwa kita bukan orang Makkah. Kita orang Indonesia. Rasul di Makkah, Rasul ini lahir di Arab, maka pelajaran pertama yaitu mengembalikan orang Makkah untuk kembali ke jalan Allah. Dan Rasul tidak ke mana-mana, Rasul menyebarkan Islam hanya sampai di Madinah. Setelah dalam waktu 22 tahun Rasulullah meninggal. Nah memahami Rasulullah yang lahir di Makkah adalah menjadi tonggak. Lantas bagaimana bisa Rasul yang ada di Makkah bisa sampai ke Indonesia, ajarannya, dan 90 persen orang Indonesia mengikuti Rasulullah SAW. Ini pasti bukan sesuatu yang muda dalam bahasa Al-Qur’an ada Shiratal Mustaqim kemudian ada Shiratalladzina ‘an ‘amta ‘alaihim. Kemudian inilah yang menjadikan ada peringatan Maulid yang menjadi refleksi dasar antara Makkah dan Madinah dan antara sejarah yang sangat panjang dan itu bukan datang tiba-tiba. Rasulullah mengajarkan di sana gaya orang-orang yang ada di sana. Rasulullah sangat terkenal ketika mengajarkan Islam, Rasul bukan orang yang keras, Rasul juga bukan orang yang membabi buta. Rasulullah dijelaskan anittum harisun alaikum bil mu’minina raufurrahim. Rasul ingin sekali umatnya kembali ke jalan Allah. Sebab itu ia mengajarkan manusia dengan cara yang berbeda-beda dan sederhana. Ada yang pinter kelasnya Sayyidina Ali diajarkan dengan standar orang pintar, dan lain sebagainya. Penulis: Fathoni Ahmad Editor: Muchlishon



19 Desember 2019

Candaan Nabi Muhammad kepada Zahir


Nabi Muhammad saw bukanlah orang melulu serius. Layaknya manusia pada umumnya, beliau juga tidak jarang bercanda dan bersenda gurau dengan para sahabatnya dalam momen-momen tertentu. Namun demikian, kelakar Nabi Muhammad didasarkan kepada hal benar, tidak mengada-ada, dan tidak pernah keluar dari koridor yang hak.  Gurauan yang dibuat Nabi Muhammad bisa merekatkan hubungannya dengan sahabatnya, bukan malah merenggangkan. Terkadang, ada pesan khusus yang ingin disampaikan Nabi Muhammad di balik candaan yang dilontarkannya kepada seorang sahabatnya. Salah satunya adalah kisah beliau mencandai Zahir, sebagaimana diceritakan buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011). Zahir adalah sahabat Nabi dari pedalaman Arab. Ia memiliki rupa yang buruk dan daya pikir yang agak lemah. Kendati demikian, Nabi Muhammad mencintai Zahir. Begitupun juga Zahir. Zahir menghabiskan hari-harinya di gurun pasir karena dia memang tinggal di sana. Suatu ketika, Zahir sedang ada di pasar untuk menjual barang-barangnya. Nabi Muhammad yang ketika itu ada di pasar melihat Zahir. Seketika itu, Nabi Muhammad menangkap Zahir dari belakang tanpa terlihat olehnya. Zahir berteriak-teriak siapa gerangan yang mendekapnya itu. Setelah menoleh ke belakang, Zahir tahu bahwa yang menangkapnya adalah Nabi Muhammad. Zahir tidak lagi ‘memberontakkan’ tubuhnya. Malah dia menggunakan kesempatan itu untuk mengeratkan pelukan Nabi Muhammad. Beliau terus mendekap tubuh Zahir dan menawarkan kepada orang-orang di pasar untuk membeli Zahir.  “Wahai manusia, siapa yang mau membeli budak ini (Zahir)?” kata Nabi Muhammad kepada para orang yang ada di pasar. Mendengar perkataan Nabi Muhammad seperti itu, Zahir menjawab kalau dirinya tidak akan laku dijual. Tidak akan ada yang mau membeli dirinya.  “Namun, di sisi Allah engkau ini mahal,” timpal Nabi Muhammad.  Melalui kisah di atas, Nabi Muhammad menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, seperti firman Allah dalam QS al-Hujurat ayat 13. Rupa, warna kulit, suku, kecerdasan, dan bangsa bukanlah menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah. Apa yang dilakukan Nabi Muhammad kepada Zahir merupakan cara beliau bersikap atau memperlakukan sahabatnya. Beliau meninggikan penghargaan kepada mereka. Sehingga sahabatnya menjadi senang dan beliau juga gembira dengan kegembiraan sahabatnya. (Muchlishon)


18 Desember 2019

Saat Nabi Muhammad Rindu Kampung Halamannya, Makkah


Nabi Muhammad saw lahir di Makkah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun gajah. Beliau tinggal di Makkah selama kurang lebih 53 tahun sebelum akhirnya hijrah (pindah) ke Madinah. Selama tinggal di Makkah, setidaknya ada tiga fase yang dilalui Nabi Muhammad. Fase pertama, fase anak-anak hingga menikah atau usia 25 tahun. Pada fase ini, Nabi Muhammad tumbuh bersama dengan keluarga dan teman-temannya. Kendati demikian, beliau tidak menyembah berhala –sesuatu yang lazim dilakukan masyarakat Makkah pada saat itu, termasuk oleh kerabat dekat Nabi sendiri. Fase kedua, menikah sampai menerima wahyu atau usia 40 tahun. Nabi Muhammad mulai merasakan ‘kegelisahan’ pada fase ini. Beliau merasa ‘ada yang salah’ dengan masyarakat Makkah yang menyembah berhala. Nabi Muhammad kemudian mulai menyendiri (ber-khalwat atau ber-tahannus) di Gua Hira untuk menenangkan pikiran dan hati. Di Gua Hira, ia bermunajat, bertaqarrub, dan bermujahadah kepada Sang Maha Pencipta. Kegiatan ini berlangsung selama beberapa bulan hingga suatu ketika malaikat Jibril mendatangai dan memberinya wahyu dari Allah. Sejak saat ini, Nabi Muhammad dikukuhkan menjadi Rasul Allah. Beliau kemudian mendakwahkan Islam kepada keluarga dekatnya secara sembunyi-sembunyi. Hingga saat ini, kehidupan Nabi Muhammad di Makkah masih ‘aman-aman’ dan baik-baik saja. Dalam artian, belum ada yang menentang, memusuhi, dan berbuat kasar kepadanya. Kendati demikian, para elit musyrik Quraisy mulai tidak terima dengan dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad. Fase ketiga, turunnya wahyu untuk berdakwah secara terang-terangan hingga hijrah ke Madinah atau usia 53 tahun. Ini menjadi fase terakhir Nabi Muhammad tinggal di Makkah. Pada fase ini, Nabi Muhammad mulai menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk Makkah secara terang-terangan. Tidak sedikit yang menjadi pengikut Nabi, namun juga banyak yang memusuhi dakwahnya. Karena motif tertentu –seperti ekonomi, takut kehilangan pengaruh, kekuasaan, dan kehormatan jika masuk Islam- mereka menentang dakwah Nabi Muhammad. Berbagai macam upaya dilakukan untuk menghentikan dakwah Islam. Mulai dari menyuap Nabi, melakukan tindak kekerasan kepada Nabi dan pengikutnya, hingga memboikot umat Islam. Namun semuanya gagal membuat Nabi Muhammad berhenti mendakwahkan Islam.  Dari hari ke hari, kaum musyrik Makkah semakin berani menentang, menghalangi, dan bertindak kasar kepada Nabi Muhammad dan para pengikutnya. Beliau kemudian mendapatkan perintah dari Allah untuk berhijrah ke Madinah –setelah berdakwah selama 13 tahun di Makkah. Maka sejak saat itu, Nabi Muhammad meninggalkan kampung halamannya, Makkah, dan menetap di Madinah. Hingga akhir hayatnya, Nabi tinggal di Madinah selama 10 tahun. Di Madinah, keadaan Nabi Muhammad dan umat Islam membaik. Tidak ada lagi penindasan dan kekerasan kepada mereka. Malah, banyak penduduk Madinah yang berbondong-bondong masuk Islam dan menjadi pengikut Nabi Muhammad. Di sana, Nabi Muhammad dan umat Islam juga mendapatkan keluarga baru, yaitu kaum Anshar (penduduk Madinah yang memeluk Islam).  Kendati demikian, Nabi Muhammad terkadang rindu dengan kampung halamannya, Makkah. Kota dimana beliau menghabiskan masa anak-anak, remaja, dan dewasanya. Kota yang banyak menyimpang kenangan. Kota dimana Ka'bah berada. Ia berharap bisa berkunjung ke sana –walau sebentar, namun keadaan belum memungkinkan. Salah satu kisah kerinduan Nabi Muhammad pada Makkah terekam dalam kitab Syarah Az-Zarqani Ala Mawahib Laduniyah karya Muhammad Az-Zarqani. Dikisahkan, suatu ketika seorang sahabat yang bernama Ashil al-Ghifari baru saja datang dari Makkah. Ia kemudian berkunjung ke rumah Nabi Muhammad setiba di Madinah. Ketika hendak menemui Nabi Muhammad, Sayyidah Aisyah bertanya kepada Ashil al-Ghifari perihal keadaan terbaru Makkah. “Aku melihat Makkah subur wilayahnya dan menjadi bening aliran sungainya,” jawab Ashil al-Ghifari. Sayyidah Aisyah kemudian mempersilahkan Ashil duduk untuk menunggu Nabi menyelesaikan pekerjaannya di dalam kamar. Tidak berselang lama, Nabi Muhammad keluar kamar dan menanyakan hal yang sama kepada Ashil al-Ghifari, yaitu ‘Bagaimana keadaan Makkah sekarang?’ Beliau sangat ingin tahu bagaimana kondisi Makkah terkini. Kali ini, Ashil al-Ghifari menjawab dengan jawaban yang lebih panjang dan detail dari sebelumnya.  "Aku melihat Mekkah subur wilayahnya, telah bening aliran sungainya, telah banyak tumbuh idzkirnya (nama sejenis pohon), telah tebal rumputnya, dan telah ranum salamnya (sejenis tanaman yang biasa digunakan untuk menyamak kulit)," kata Ashil al-Ghifari. “Cukup wahai Ashil. Jangan kau buat kami bersedih,” sela Nabi Muhammad dengan penuh rindu. Demikianlah tabiat manusia, dia akan merindukan kampung halamannya. Begitupun dengan Nabi Muhammad. Beliau sangat merindukan Makkah setelah sekian tahun meninggalkannya. Nabi Muhammad dan umat Islam baru bisa berkunjung ke kampung halamannya, Makkah, ketika terjadi peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Makkah) pada 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah. Iya, Nabi dan umat Islam baru bisa melunasi kerinduannya pada kampung halamannya 8 tahun setelah beliau meninggalkan kota itu. (Muchlishon)


16 Desember 2019

Cara Nabi Muhammad Meringankan Beban Ekonomi Abu Thalib


Muhammad kecil hidup di rumah kakeknya, Abdul Muthalib, setelah ibundanya, Sayyidah Aminah, wafat. Kemudian ketika Abdul Muthalib juga wafat, Muhammad kecil akhirnya tinggal bersama pamannya, Abu Thalib. Pada saat awal-awal tinggal bersama Abu Thalib, Muhammad kecil biasa-biasa saja. Ia bermain dan makan bersama dengan anak-anak Abu Thalib.  Namun lama kelamaan, Muhammad kecil mulai sadar bahwa kondisi ekonomi pamannya memprihatinkan. Ditambah pamannya juga memiliki anak yang banyak. Hal itu lah yang menggerakkan Muhammad kecil untuk berbuat sesuatu. Bekerja apapun itu, yang penting bisa menghasilkan uang untuk sekedar membantu ekonomi keluarga pamannya.  Suatu ketika, Muhammad kecil menyampaikan keinginannya untuk menggembala kambing kepada pamannya, Abu Thalib. Sang paman kaget mendengar hal itu. Ia berusaha mencegahnya, namun gagal. Begitu pula dengan sang bibi, Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib. Keduanya sebetulnya tidak tega kalau keponakannya yang masih kecil itu harus kerja menggembala kambing. Akan tetapi tekad Muhammad kecil begitu bulat sehingga tidak bisa dihentikan. Dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018) disebutkan, salah satu alasan Nabi Muhammad menggembala kambing saat anak-anak adalah untuk meringankan beban keuangan yang dialami pamannya, Abu Thalib.  Pada kesempatan lain, Nabi Muhammad juga melakukan hal yang sama –membantu meringankan beban ekonomi Abu Thalib, namun dengan cara yang berbeda. Suatu ketika, kaum Quraisy mengalami krisis yang parah. Digambarkan bahwa mereka sampai memakan tulang busuk untuk mengganjal perutnya.  Hal yang sama juga dialami Abu Thalib. Dia tidak memiliki makanan untuk diberikan kepada anak-anaknya. Setelah mengetahui hal itu, Nabi Muhammad berpikir untuk meringankan beban yang menimpa pamannya itu. Gayung bersambut, Allah memberi Nabi Muhammad ilham untuk menyelesaikan persoalan itu. Nabi Muhammad kemudian mendatangi pamannya yang lain, Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau meminta pamannya itu untuk ikut serta membantu Abu Thalib. “Wahai paman, saudaramu, Abu Thalib, banyak keluarga. Kau tahu orang-orang sedang dilanda krisis. Mari kita ke sana, kita ringankan bebannya,” kata Nabi Muhammad.    Seketika itu, Nabi Muhammad dan Abbas bertandang ke rumah Abu Thalib. Kepada Abu Thalib, Nabi Muhammad menyatakan bahwa beliau ingin menanggung atau mengasuh sebagian keluarganya. Abu Thalib mempersilahkannya, namun ia meminta agar Uqail tetap bersamanya.  Seperti tertera dalam buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandhlawi, 2019), Nabi Muhammad kemudian mengasuh Ali bin Abi Thalib, sedangkan Abbas mengambil Ja’far bin Abu Thalib. Ja’far masih tetap bersama Abbas sampai ia hijrah ke Habasyah (Ethiopia).  Demikian sikap Nabi Muhammad ketika mengetahui ada keluarganya yang mengalami kesulitan. Beliau tidak segan-segan mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang menimpa keluarganya. (A Muchlishon Rochmat)


LATIHAN PAT KELAS 10 IPA 1 2 3 4

  Pilihlah jawaban yang benar ! 1.          Allah S WT telah mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap muslim, diantara dalil perintah ...