22 April 2020

SAUDI TIADAKAN SHOLAT TARAWIH


Makkah, NU Online 
Otoritas Arab Saudi memperpanjang penangguhan shalat berjamaah di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah selama bulan Ramadhan tahun ini. Langkah ini sebagai upaya untuk membendung penyebaran virus corona (Covid-19).  Hal itu diumumkan oleh Presiden Jenderal Dua Masjid Haramain, Sheikh Dr Abdulrahman bin Abdulaziz al-Sudais melalui akun Twitter-nya, sebagaimana diberitakan Arab News, Selasa (21/4). Kata al-Sudais, muazin di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi akan tetap mengumandangkan azan, sebagai panggilan shalat, selama Ramadhan. Namun demikian, dua masjid tersuci bagi umat Islam itu akan ditutup bagi para jamaah. Dengan demikian maka tidak akan ada shalat berjamaah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama Ramadhan nanti.    Tidak hanya itu, layanan buka puasa bersama dan iktikaf di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi juga dibatalkan. Sejak bulan lalu, otoritas terkait mulai mengintensifkan tindakan pencegahan virus corona (Covid-19) dan juga meningkatkan koordinasi antara semua pihak untuk menjaga kesehatan para jamaah. Sebelumnya, Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Mohammed Al El-Sheikh juga mengumumkan agar shalat Tarawih dan shalat Idul Fitri dilaksanakan di rumah masing-masing, jika pandemi virus corona (Covid-19) belum reda. Demikian dilaporkan kantor berita Saudi, SPA, Jumat (17/4).  Abdul Aziz menuturkan, tidak mungkin melaksanakan shalat Tarawih dan shalat Idul Fitri di masjid-masjid karena itu akan ‘melanggar’ tindakan pencegahan yang diambil otoritas terkait untuk memerangai penyebaran virus corona.  Karena itu, dia meminta warga Saudi untuk shalat Tarawih dan shalat Idul Fitri di rumah masing-masing. Menurutnya, shalat Idul Fitri bisa dilaksanakan di rumah tanpa khutbah.   Sampai hari ini, Selasa (21/4), merujuk data Worldometers, ada 10.484 kasus virus corona di Arab Saudi, di mana sebanyak 103 dinyatakan meninggal dan 1.490 sembuh. Masjid tersuci ketiga bagi umat Islam, Masjidil Aqsa di Yerusalem juga ditutup untuk jamaah selama bulan Ramadhan demi mencegah corona. Pengurus yang ditunjuk Yordania untuk mengurusi situs-situs suci Islam, Wakaf Islam Yerusalem, mengatakan keputusan tersebut sangat ‘menyakitkan’ bagi umat Islam.   Diberitakan Aljazeera, Kamis (16/4), dewan pengurus menyebut bahwa penutupan Masjidil Aqsa selaras dengan fatwa ulama dan pertimbangan medis. Karena itu, umat Islam diimbau untuk melaksanakan shalat di rumah masing-masing selama bulan Ramadhan. 
Pewarta: Muchlishon 
Editor: Kendi Setiawan

21 April 2020

TUGAS DARING SISWA SISWI SMA AL AZHAR 3 BANDAR LAMPUNG


CERITAKAN SECARA SINGKAT PERISTIWA PERANG MU'TAH
TUGAS DITULIS DENGAN TANGAN
KEMUDIAN DIFOTO + PAP WAJAH
LALU KIRIM KE EMAIL
ariefhakimofficial@gmail.com
tidak menerima pesan WA

paling lambat pukul 
17.00 WIB

20 April 2020

SEDIKIT KISAH KH ABDUL WAHID HASYIM


Saat bertugas sebagai Menteri Agama, KH Abdul Wahid Hasyim pernah terlibat perdebatan sengit dengan salah seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Masyumi. Alissa Wahid menceritakan hal tersebut saat Webinar Haul Ke-67 KH Abdul Wahid Hasyim pada Ahad (19/4). Cerita tersebut didapatkan dari pamannya, dr Umar Wahid yang mendengar langsung ibunya menceritakan peristiwa tersebut. Sementara, Nyai Solichah melihat langsung suaminya beradu pendapat dengan orang tersebut. Dari balkon, ia melihat salah seorang anggota DPR itu habis-habisan mencecar sang suami terhadap kebijakannya sebagai Menteri Agama. Tentu saja, Nyai Solichah yang tidak lain adalah putri KH Bisri Syansuri (Rais Aam PBNU 1971-1981) kesal bukan kepalang melihat suaminya diperlakukan seperti itu. Namun, saat melenggang pulang, Kiai Wahid justru menawari mobilnya untuk turut ditumpangi oleh anggota dewan yang mencecarnya tersebut. Ia mengantar pulang hingga betul-betul sampai ke depan rumahnya. Setelah mengantarkan pulang politisi Masyumi tersebut, Nyai Solichah bertanya kepada Kiai Wahid Hasyim mengenai sikapnya yang justru malah berlaku baik kepada orang yang terlihat begitu memusuhinya. Saat itu, Kiai Wahid Hasyim menjawab bahwa politisi itu tengah menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR, yakni mengkritisi pemerintah agar berjalan sesuai amanat. Oleh karenanya, ia tetap harus dihormati. Justru, menurut Kiai Wahid, ia menjalankan tugasnya dengan baik. Di luar itu, bagi KH Wahid Haysim, sosok anggota DPR itu tetaplah teman “Tetapi di ruang itu dia menjalankan tugasnya, saya menjalankan tugas saya sebagai wakil pemerintah sebagai menteri agama, dia sebagai anggota parlemen wakil rakyat,” kata Alissa menjelaskan jawaban Kiai Wahid untuk memenuhi rasa penasaran sang istri. Dengan pernyataannya yang demikian, bagi Alissa, hal tersebut bukanlah jawaban suami terhadap istrinya. “Jawaban Kiai Wahid Hasyim menurut saya bukan jawaban suami kepada istri, tapi jawaban seorang guru bangsa,” katanya. Di situlah terdapat pelajaran sangat berharga. Sebab, sebagaimana diketahui bersama kata Alissa, saat ini politik kehilangan moralitasnya, kehilangan etikanya. Bahkan, tak jarang ada yang mampu melakukan pengkhianatan kepada orang yang berjuang bersama untuk kepentingan politik. “Sementara beliau Kiai Wahid Hasyim secara utuh melihat peran dan melihat bagaimana sebuah sistem perpolitikan itu harus dijalankan. Beliau konsisten di sana,” ungkap Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian itu. Menambahi Alissa, Sejarahwan Iip D Yahya menyebut bahwa politisi tersebut bernama Amel. Secara garis politik, Amel dan Kiai Wahid Hasyim memang berlawanan mengingat saat itu, tahun 1953, Partai NU sudah keluar dari Masyumi. Menurut Iip, Kiai Wahid Hasyim menawarkan mobilnya untuk mengantarkan Amel karena pada saat itu ia sudah lama berdiri menunggu datangnya angkutan. “Pak Amel ini berdiri lama di depan gedung dewan, tidak ada angkutan di depan, lalu beliau (Kiai Wahid) antarkan ke rumah,” pungkasnya.  


 Pewarta: Syakir NF Editor: Alhafiz Kurniawan

17 April 2020

Sholawat Nahdhiyah


Lirik Sholawat
Karya: K.H. Hasan Abdul Wafi

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً تُرَغِّبُ وَ تُنَشِّطُ
وَ تُحَمِّسُ بِهَا الجِهَاد لِإِحْيَاءِ
وَ اِعْلَاءِ دِيْنِ الإِسْلَام
وَاِظْهَارِشَعَائِرِهِ عَلَي طَرِيْقَةِ
جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
. اللهُ اللهُ اللهُ اللهُ.
ثَبِّتْ وَانْصُرْ اَهْلَ جَمْعِيَّة
جَمْعِيَّة نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللهِ



Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad
Shalaatan turaghghibu wa tunasyithu

Wa tuhammisu biha al-jihaad li ihyaa-i
Wa i’laa-i diinil islaam

Wa idzhaari sya’aairihi ‘laa thariqati
Jam’iyyah nahdlatil ‘ulamaa’

Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim.
Allah Allah Allah Allah.
Tsabbit wanshur ahla jam’iyyah,

Jam’iyyah Nahdlatil Ulama
Li i’laa-i kalimatillah.

Artinya:

“Ya Allah bershalawatlah dan bersalamlah kepada Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan bacaan shalawat yang membuat kami menjadi senang, rajin dan bersemangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan syiar agama islam serta menampakkan syiar-syiar islam menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dan bershalawat dan bersalam pulalah kepada para keluarga nabi dan para sahabatnya. Allah, Allah, Allah, Allah. Teguhkanlah dan tolonglah seluruh warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk meninggikan kalimat Allah (agama islam beserta seperangkat ajarannya).

photo_2018-12-21_16-37-44


14 April 2020

Sholawat Nahdiyah


Lirik Sholawat
Karya: K.H. Hasan Abdul Wafi

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
صَلَاةً تُرَغِّبُ وَ تُنَشِّطُ
وَ تُحَمِّسُ بِهَا الجِهَاد لِإِحْيَاءِ
وَ اِعْلَاءِ دِيْنِ الإِسْلَام
وَاِظْهَارِشَعَائِرِهِ عَلَي طَرِيْقَةِ
جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
وَعَلَي اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
. اللهُ اللهُ اللهُ اللهُ.
ثَبِّتْ وَانْصُرْ اَهْلَ جَمْعِيَّة
جَمْعِيَّة نَهْضَةِ العُلَمَاءِ
لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللهِ


Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad
Shalaatan turaghghibu wa tunasyithu

Wa tuhammisu biha al-jihaad li ihyaa-i
Wa i’laa-i diinil islaam

Wa idzhaari sya’aairihi ‘laa thariqati
Jam’iyyah nahdlatil ‘ulamaa’

Wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallim.
Allah Allah Allah Allah.
Tsabbit wanshur ahla jam’iyyah,

Jam’iyyah Nahdlatil Ulama
Li i’laa-i kalimatillah.

Artinya:
“Ya Allah bershalawatlah dan bersalamlah kepada Sayyidina Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan bacaan shalawat yang membuat kami menjadi senang, rajin dan bersemangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan syiar agama islam serta menampakkan syiar-syiar islam menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Dan bershalawat dan bersalam pulalah kepada para keluarga nabi dan para sahabatnya. Allah, Allah, Allah, Allah. Teguhkanlah dan tolonglah seluruh warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk meninggikan kalimat Allah (agama islam beserta seperangkat ajarannya).

photo_2018-12-21_16-37-44

13 April 2020

haflkan


  اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هذِهِ اللَّيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 
Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa 'alâ sariirl karâmati qâ'idîn. Wa bi hûrun 'in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn. Artinya, “Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.” (Lihat Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta). Tampak bahwa nama "kâmilîn" diambil dari redaksi pembuka doa ini yang memohon terbentuknya pribadi-pribadi sempurna (kâmilîn) dalam hal keimanan. Substansi doa ini cukup komplet, meliputi aspek duniawi dan ukhrawi, kenikmatan dan kesulitan, meminta kerbekahan malam mulia, diterimanya amal, dan lain sebagainya. Doa yang hampir selalu dibaca oleh umat Islam di Tanah Air ini juga  termaktub dalam kitab-kitab doa ulama Nusantara, salah satunya Majmû‘ah Maqrûât Yaumiyah wa Usbû‘iyyah karya pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban, KH Muhammad bin Abdullah Faqih (rahimahullâh). Pada lembar pengantar, sang ayah, KH Abdullah Faqih, mengatakan bahwa doa-doa dalam kitab itu merupakan hasil ijazah dari Kiai Abdul Hadi (Langitan), Kiai Ma'shum (Lasem), Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, dan Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. KH Abdullah Faqih memberikan restu atau ijazah kepada siapa saja yang mengamalkan (dengan ijâzah munâwalah). Wallâhu a'lam bish shawâb.

Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/68880/doa-kamilin-dibaca-sesudah-shalat-tarawih

LATIHAN PAT KELAS 10 IPA 1 2 3 4

  Pilihlah jawaban yang benar ! 1.          Allah S WT telah mewajibkan menuntut ilmu bagi setiap muslim, diantara dalil perintah ...